AYAH YANG PENUH CINTA - FKDI Indonesia

Thursday, November 29, 2018

AYAH YANG PENUH CINTA


"AYAH YANG PENUH CINTA"

Pemateri: Ustadz Lilik
Edisi: 02 Oktober 2018

Menjadi seorang ayah adalah sebuah predikat yang akan selalu melekat pada seorang suami ketika ia memiliki anak. Profesi atau gelar mulia yang seringkali kurang disadari seorang pria bahkan ia hadapi dengan biasa-biasa saja, tak ubahnya saat ia telah mengemban amanah sebagai suami.

Ya kadang kita sebagai ayah tidak menyadari kalau mencintai anak , mendidik anak itu 100% tanggungjawab kita

Ada sebuah syair yang mengatakan:

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنّاَ عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ

Dan anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang ayahnya biasakan kepada dirinya.

Seorang anak sangat membutuhkan kehadiran ayah, sebagaimana pula dia begitu ingin dekat dan dicintai oleh ibunya. Seorang ayah yang super sibuk dan menyerahkan segala tanggung jawab pendidikan anaknya kepada istrinya tanpa ada upaya untuk terlibat di dalam membimbing anaknya, ia bukanlah figur AYAH yang baik.

Namun realitas yanga terjadi urusan domestik rumah tangga termasuk bagaimana mendampingi mereka belajar, mengembangkan kreativitas, membentuk kepribadian dan karakter, curhat dan juga segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, materi, emosional, sosial, bahkan pembiasaan-pembiasaan yang berhubungan dengan keimanan, akhlak atau ibadah biasanya ditangani seorang istri. Ibaratnya wanita sebagai manager RT.

Kondisi demikian ini yang kadang menjadikan saya sebagai seorang AYAH tak mampu membendung air mata, begitu luarbiasanya IBU, BUNDA, UMI...mbok, yang sebenarnya tanggung jawab utamanya dilakukan seorang AYAH namun dilakukan mereka, lebih miris lagi jika AYAH pulang dalam kondisi payah tak ada cinta bahkan ndak ada dorongan sama sekali untuk sang bunda yang berjuang menggantikan peranya apalagi sampai menyentuh anaknya

Sekali lagi sampaikan salam saya kepada para AYAH

Tak dapat dipungkiri peran dan tanggung jawab seorang ayah yang peduli dan memilki power full tetap dibutuhkan seorang  anak. Sesibuk apapun seorang ayah perlu meluangkan waktunya untuk peduli pada anaknya, meski hanya berkirim sms seperti “ Sayangku, sudah sholat belum?” atau mengajaknya bercanda, bermain bersama, atau memberinya kejutan-kejutan kecil, seperti : hadiah buku dan lain-lain, dengan maksud untuk merekatkan cinta kasih.

Bagaimanapun kondisi dan situasinya seorang anak tetap ingin selalu dekat, baik secara fisik lebih-lebih psikis dengan kedua orang tuanya. Ini fitrah dan naluri. Sebagaimana orang tua juga dianugerahi oleh Allah ‘Azza wa Jalla rasa cinta kepada buah hatinya. Lebih-lebih anak perempuan biasanya mereka akan dekat dengan orang tuanya, terlebih lagi ketika mendekati masa remaja.

Saat subuh tiba atau waktu sebelum subuh , peluklah anak perempuan kita , bangunkanlah dia untuk.membuka hari mereka dengan hati yang bahagia, temenailah dia untuk melaksanakan kewajibanya, hantarkan dia ke sekolah , lakukan cipika cipiki, dan kecuplah keningnya dan jangan lupa do'akan " Allohumma Inni u'idzuhabika wa dzuriyataha minasy syaithon nirojiim" semoga Alloh menjaga anak perempuan kita terutama dari seluruh fitnah yang ada

Saat menjemput sekolah pun kalau bisa kita lakukan yang demikian, kemudian saat pulang berbincang ringanlah dengan anak kita dengan sesuatu yang menggembirakan bukan membosankan dan membebani fikiran anak.anak kita

Ketika ia tak menemukan figur ayah yang baik , bisa jadi ia melampiaskan kegundahan pada kawan prianya dan ini bisa membuka pintu fitnah. Disinilah pentingnya sosok ayah dalam menghandle anak-anaknya agar tetap lurus diatas Islam dan mampu menfilter hal-hal yang negatif dengan tumbuhnya perasaan aman dan nyaman bersama kedua orang tuanya. Dan Islam pun memandang peran ayah sedemikian penting hingga Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam seringkali bercanda,  menghibur dan dekat dengan anak-anak.

Ayah pendengar yang baik dan asyik juga bisa membangun kedekatan dan keakraban kemudian terbangunlah budaya keterbukaan yang sehat, anak perempuanya suka dan asyik bercurhat kepada ayahnya, ini bagus , ini kunci dari solusi permasalahan anak kita terutama yang menginjak remaja, kalau dah terbangun hubungan seperti ini insya Alloh akan bisa mengantisipasi permasalahan pelik yang dihadapi orang tua atas seabrek permasalahan remaja, insya Alloh

Sosok ayah penuh cinta dan dicintai anaknya! Rasanya semua pria ingin menjadi ayah yang selalu dirindukan anak-anaknya. Ayah yang lembut tidak kasar namun tetap disegani anak-anak.

“ Sungguh tidaklah sifat lemah lembut ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya. Dan tidaklah sifat lemah lembut tercabut dari sesuatu melainkan ia menjadikannya “ buruk”. ( HR. Muslim  No.  6767 ).

Salah satu kunci pembuka untuk akrab dan dekat dengan anak adalah sifat lembut. Orang tua yang membiasakan kelembutan dalam mendidik anak, maka anak insya Allah akan bertutur kata lembut, bersikap hati-hati dan tidak berperangai keras lagi kasar. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita bagaimana bergaul dan berinteraksi dengan anak kecil yang didasari rasa kasih sayang yang tulus. Anas menegaskan :

“Rasulullah adalah orang yang paling penyayang kepada anak-anak dan keluarga”. ( Hadits shohih riwayat  Ibnu Asakir, Shahih Al-Jami’ no. 4797 ).

Ibnu Abbas menuturkan,

“Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mengunjungi kaum Anshar lalu memberi salam kepada anak-anak mereka serta  membelai kepala mereka.” ( HR. An-Nasai, dishohihkan Al – Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4947 )

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah :

“Seorang A’rabi telah mendatangi Nabi Saw dan berkata “Kami belum pernah menciumi anak-anak kami. Apakah engkau (Nabi) menciumi anak-anakmu?” Maka Nabi Saw bersabda, “Apakah engkau ingin Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?”

Dalam hadis lain Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah telah berkata :

“Rasulullah Saw menciumi Al Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beliau duduk al-Aqra bin Habis at-Tamimi. Kemudian Al-Aqra bin Habis at-Tamimi berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi tidak satupun di antara mereka pernah aku cium.” Maka Rasulullah Saw memandang Al-Aqra dan berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.”

Dari dua hadits diatas tentu kita sudah bisa mengambil kesimpulan sederhana, kalau mencintai anak dengan penuh ketulusan adalah sebuah perintah dari Rasulullah Saw. Dan, Rasulullah juga memberikan beberapa contoh ekspresi dalam mencintai anak kepada kita salah satu diantaranya adalah dengan cara memberikan ciuman pada anak.

BERDO’A PADA ALLAH SWT AGAR DIBERI KEMAMPUAN DAN KESEMPATAN MEMBERIKAN CINTA YANG TULUS IKHLAS PADA ANAK-ANAK KITA

Sejatinya cinta adalah milik Allah Swt. Allah titipkan rasa itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah juga bisa mencabutnya dari hati siapa saja yang Allah kehendaki. Kita bisa lihat sendiri di sekeliling kita, tak semua orangtua Allah anugerahkan rasa cinta kepada anaknya. Mereka memukul anaknya, membentak anak, menyuruh anaknya bekerja tanpa batas, memperbudak anaknya hingga yang tak segan-segan membuang dan membunuh anaknya sendiri. Berdo’a adalah senjata orang beriman, maka berdo’alah pada Allah Swt agar Allah beri kekuatan sekaligus kesempatan untuk memberikan cinta terbaik pada anak-anak kita. Cinta tanpa syarat. Cinta yang tulus ikhlas.

Wallahu a'lam bish shawab
Wasalamualaikum wr wb.

posted from Bloggeroid

No comments:

Post a Comment