MENYIKAPI MUSIBAH - FKDI Indonesia

Wednesday, September 26, 2018

MENYIKAPI MUSIBAH


MENYIKAPI MUSIBAH

Pemateri: Ustadz Rully El Hamasyi
Edisi: 11 September 2018

Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan “bencana”, “kemalangan”, “cobaan”. Dalam Al-Quran sendiri tercantum 10 kali kata musibah dan 67 kali kata yang seakar dengan kata musibah. Musibah berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Sesuatu yang menimpa atau mengenai itu tidak selalu buruk.  Al-Quran mengisyaratkan bahwa seseorang tidak akan disentuh oleh musibah kecuali karena ulahnya sendiri, dan bahwa musibah itu datang dari Allah SWT. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah SWT.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41)

 Musibah juga bisa berarti menguji. Seseorang yang diuji suatu musibah akan menampakkan kemampuan yang sebenarnya.Hidup ini ujian. Ujian dapat juga berwujud sesuatu yang disenangi atau tidak disenangi. Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Allah maka dia adalah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Allah, itupun dia keliru. Disini Allah SWT menggunakan kata “bala” yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana adalah murka Tuhan.

 Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia sebagai bagian dari ketetapan-NYA, sehingga meninggalkan duka pada kita dan keluarga. Sering kali duka membuat kita tak berdaya, namun kita harus menyikapi musibah dengan lapang dada, ridha, bersabar, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan semuanya kepada Allah yang Mahakuasa. Dengan sikap itu, musibah yang datang akan menjadi kebaikan, sebagaimana disabdakan oleh Rasul SAW:
 “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan. (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad)”

Bencana alam ada yang datang dengan tiba-tiba tapi ada juga bencana yang sifatnya rutin setiap tahun, Bencana yang tiba-tiba datang, sering membuat kita terkejutdan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi untuk bencana yang sifatnya rutin seharusnya kita lebih siap menghadapinya.

Berhadapan dengan musibah seperti layaknya menyelesaikan ujian. Kita tahu persis, ketika kita sekolah atau kuliah bagaimana menghadapi ujian agar dapat mencapai hasil yang memuaskan. Hasil ujian yang lulus dengan memuaskan apabila kita dapat menyelesaikannya dengan baik dengan persiapan yang matang. Ketika lulus ujian kelas 1, maka kita kan naik tingkat ke kelas 2, diuji lagi dan lulus kemudian naik ke kelas 3, dst. Sebagai contoh, dalam menghadapi bencana alam banjir yang selalu datang setiap tahun, sepantasnya kita selalu belajar dari lesson learned tahun-tahun sebelumnya dan selalu berusaha lebih baik untuk mengantisipasinya.

Ada 10 cara dalam menghadapi musibah, yaitu:

Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un …”

Mengimani takdir ilahi

Yakinlah ada himah di balik cobaan

Introspeksi diri

Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa

Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji

Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan

Hadapilah cobaan dengan bersabar

Bersabarlah di awal musibah

Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar

Musibah hanyalah salah satu dari 4 ketetapan (takdir) Allah yang pasti mengenai diri kita selama kita hidup. Dan Rasul mengajarkan respon apa yang harus kita lakukan. Selain musibah, ada 3 ketetapan lainnya adalah mendapat nikmat, melakukan salah, dan mendapat cobaan.

Ada 3 hal yang dapat kita lakukan dalam menghadapi musibah, ujian dan cobaan yaitu sholat (doa), syukur dan sabar (3S). Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan ini.

Dampak sholat, menjadikan diri kita menjadi orang yang bertakwa, menjadi orang yang menyerahkan diri. Berserah diri kepada Allah SWT yang telah mengatur alam raya dengan cara yang benar. Semua kejadian berasal dari Allah SWT dan kepada Allah SWT juga semua urusan akan kembali, termasuk bencana itu. Maka kita kembalikan lagi bencana kepada Allah, agar kita bisa memulihkan semua kerusakan ini untuk kembali normal.

Ber-syukur sering kita artikan bersikap berterimakasih kepada Allah SWT, tapi makna yang lebih dalam lagi dari ber-syukur adalah kita melakukan sesuatu yang (Allah)  memang menghendaki-Nya, itulah bersyukur. Misalnya mensyukuri tentang ilmu. Seorang dokter mengobati pasiennya, adalah tindakan bersyukur kepada ALLAH SWT karena dengan ilmu yang didapatnya ia pergunakan dengan semestinya, itulah bersyukur.

Dengan bersyukur kepada Allah SWT, kita melakukan sesuatu yang Allah SWT kehendaki, kita bekerja keras sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang kita miliki. Dengan Ber-syukur, kita punya harapan agar kita dijauhkan dari segala bencana yang menimpa kita.

Namun apabila bencana itu memang datang kepada kita, dan pasti kita tidak akan bisa menolak, maka kita terima dengan sabar. Ber-sabar itu menerima bencana dengan tanpa keluh kesah. Menerima kejadian bencana, tanpa mematikan semangat. Semangat tetap berkobar. Semangat menjadi pendorong untuk berupaya untuk memperbaiki-nya itulah ber-sabar.
Sabar menerima musibah membuat tubuh kita menjadi ringan dari penderitaan bahkan mampu menghapus dosa-dosa kita. Setiap musibah, ujian dan cobaan yang datang akan disesuaikan dengan kadar kemampuan dalam menerimanya karena Allah sangatlah memahami seberapa kekuatan kita dalam menerimanya sehingga Allah tidak akan memberikan musibah, ujian dan cobaan diluar kesanggupan umatnya. Maka janganlah bersedih, sebab dibalik musibah pasti ada hikmahnya

Wa allahu'alam

No comments:

Post a Comment