Kesalahan Membaca Al-Fatihah - FKDI Indonesia

Wednesday, September 26, 2018

Kesalahan Membaca Al-Fatihah


Kesalahan yang Disengaja dalam Membaca Al-Fatihah Ketika Shalat

Pemateri: Ustadz Wawan
Edisi: 26 September 2018

Yang penulis maksud dengan kesalahan yang disengaja dalam membaca al-Fatihah di sini adalah ketika seseorang yang sedang shalat lalu dengan sengaja melakukan kesalahan dalam pengucapan lafazh-lafazhnya, atau misalnya ketka ia tidak memperhatikan bacaan yang benar padahal ia mampu membacanya dengan baik dan benar. Dalam hal ini tentu saja ada perbedaan hukum antara yang sengaja dan tidak sengaja, atau karena ketidaktahuan.

Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath al-Mu’in menjelaskan bahwa jika seseorang memang mampu membaca dengan benar, atau memungkinkan untuk belajar, lalu ia mengganti satu huruf dalam surah al-Fatihah dengan huruf lainnya, walaupun misalnya mengganti huruf dhad menjadi zha’, atau melakukan kesalahan dalam hal bacaan yang bisa merusak makna, seperti mengkasrahkan huruf ta’ dalam kata an’amta menjadi an’amti, atau mendhammahkannya menjadi an’amtu. Contoh lain misalnya mengkasrahkan huruf kaf dalam kalimat iyyaka menjadi iyyaki, jika hal itu dilakukan dengan sengaja, bahkan ia sendiri sebenarnya mengetahui keharamannya, maka shalatnya menjadi batal dan tidak sah. Adapun jika tidak disengaja dan tidak mengetahui keharamannya, maka yang tidak sah hanya bacaannya al-Fatihahnya saja, yang jika belum berselang lama kemudian ia membenarkan bacaannya, maka bacaannya menjadi sempurna. Demikian juga, (lanjut beliau) kesalahan bacaan yang tidak sampai merusak makna, seperti membaca huruf dal dalam kata na'budu dengan fathah sehingga menjadi na’buda, jika disengaja, maka hukumnya haram, atau setidaknya makruh.

Al-Malibari juga mencontohkan jika seseorang mengucapkan lafazh ar-rahman tanpa mengidghamkan huruf lam ke dalam huruf ra’ sehingga menjadi al rahman, jika hal itu dilakukan oleh seseorang karena suatu kesengajaan padahal ia mampu membacanya dengan baik, atau oleh orang yang tidak mampu membaca karena tidak mau belajar, maka batal shalatnya. jika tidak demikian, maka yang batal hanyalah bacaan kalimat tersebut saja. Atau misalnya ketika seseorang menghilangkan tasydid pada huruf ya' dalam lafazh iyyaka, sementara ia sendiri mengerti maknanya, maka ia dihukumi kafir, sebab arti lafazh tersebut berubah maknanya menjadi “sinar matahari”. Sehingga jika demikian maka ayat yang dimaksud bisa berubah arti menjadi (menyembah dan meminta pertolongan kepada sinar matahari'. Adapun jika tidak disengaja, maka hendaknya ia sujud sahwi. Lain lagi misalnya ketika seseorang membaca tasydid huruf-huruf yang sebenarnya tdak bertasydid, maka shalatnya tetap sah, namun tetap saja hukumnya haram, sama seperti ketika ia menghentkan bacaan antara huruf sin dan ta’ dalam kata nasta’in. Wallahu a'lam.[]

Dikutip dari: https://goo.gl/Smd1d7

No comments:

Post a Comment