Ali Bin Abi Thalib Ra - FKDI Indonesia

Wednesday, September 26, 2018

Ali Bin Abi Thalib Ra


Teladan Ali Bin Abi Thalib Ra

Pemateri: Ustadz Herman Budianto, SE MS.I
Edisi: 13 September 2018

"Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah menyatakan kepada Ali radiyallahu 'anhu, bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang membencinya, kecuali orang munafik." (HR. Muslim)

Sahabat, tentu mengenal sosok Ali bin Abi Thalib radiyallaahu 'anhu bukan? Beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang dikenal karena kecerdasannya, Ali bin Abi Thalib menikahi putri Rasulullah, Fatimah Az Zahra, dan keluarganya hidup dalam kesederhanaan, bahkan ketika diangkat menjadi seorang khalifah pun tetap teguh dengan gaya hidup zuhud yang jauh dari gemerlapnya dunia.

Sungguh banyak sekali sifat keteladanan yang bisa kita temukan dalam diri Ali bin Abi Thalib, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Gaya hidup zuhud
Bagaimana tidak zuhud? Bahkan sekalipun beliau hanya memiliki satu dirham terakhir, atau satu roti terakhir, dan beliau dalam keadaan amat sangat lapar, maka beliau tetap akan memberi harta terakhirnya tersebut pada peminta-minta yang mendatanginya. Karakteristik zuhud yang jarang sekali kita jumpai saat ini.

Bukankah banyak orang saat ini yang bersikap sebaliknya, walaupun sudah memiliki banyak harta, tetap saja masih meminta-minta?

Ali bin Abi Thalib, selain zuhud (sederhana dalam hidup) secara pribadi, beliau juga memiliki pandangan bahwa zuhud bagi penguasa merupakan sesuatu yang penting dan wajib dimiliki.

Beliau berkata, “Allah menjadikanku sebagai imam dan pemimpin, dan aku melihat perlunya aku hidup seperti orang miskin dalam berpakaian, makan, dan minum sehingga orang-orang miskin mengikuti kemiskinanku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan.” (Biharul Anwar, jilid 40, hlm. 326)

Sebuah peristiwa mengenai keluarga Ali bin Abi Thalib yang hidup zuhud diabadikan Allah dalam Al Quran:

".... mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, serta orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan fc ridlo Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Insaan: 7-9).

Ayat ini mengisahkan tentang keluarga Ali yang berpuasa selama 3 hari, dan selama itu pula setiap kali hendak berbuka, mereka kedatangan orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan sehingga mereka selalu memberikan roti sebagai hidangan berbukanya untuk orang-orang yang datang tersebut.

Sedangkan kondisi mereka sendiri tetap menahan lapar yang melilit perut, dan setiap anggota keluarga tersebut ridho dengan apa yang mereka alami. Subhanallah.

.
2. Ridha menerima tugas sekalipun yang terlihat tidak 'bergengsi'
Orang zaman sekarang banyak yang enggan menerima tugas yang tidak bergengsi dan tidak menaikkan pamornya atau tampak sebagai tugas rendahan, namun demikian Ali bin Abi Thalib rela mengganti semangat juangnya ke medan perang dengan bertugas menjaga Madinah, yakni menjaga kaum perempuan dan anak-anak.

Suatu ketika Rasulullah ingin berangkat pada perang Tabuk dan memerintah Ali radiyallahu 'anhu agar menjaga Madinah, Ali radiyallahu 'anhu merasa keberatan sehingga mengatakan, "Apakah engkau meninggalkan aku bersama kaum perempuan dan anak-anak?"

Namun Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam justru menunjukkan kedudukan Ali radiyallahu 'anhu yang sangat tinggi seraya bersabda, "Apakah engkau tidak ridha kalau kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada kenabian sesudahku." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini merupakan pembelaan Rasulullah atas tuduhan orang munafik yang meremehkan Ali bin Abi Thalib:

Ali berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang munafik mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberikan keringanan”.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka telah berdusta! Kembalilah, aku menugaskanmu untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”. Maka Ali pun akhirnya kembali ke Madinah (Taariikhul-Islaam, 1: 232).

3. Pengetahuan luas terutama mengenai al Quran
Pengetahuan Ali sungguh sangat luas, terutama ilmu mengenai al quran. Mengenai hal ini, Hasan al Basri pernah berkomentar tentang pengetahuan Ali bin Abi Thalib soal ayat-ayat al-Qur`an: “Dia (Ali bin Abi Thalib) telah mencurahkan tekad dan ilmu serta amalnya kepada al-Qur`an. Baginya al-Qur`an ibarat kebun-kebun yang indah dan tanda-tanda yang jelas.”

“Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda sambil memegang tangan Ali RA: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya”

“Engkau (Ali Radiyallaahu 'anhu) adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.” (HR. Al-Bukhari).

Sahabat, demikianlah beberapa keteladanan yang dapat kita tiru dari Ali bin Abi Thalib, semoga Allah mudahkan kita untuk meneladani beliau.
Wallaahualam

No comments:

Post a Comment