Pandangan Al Quran Terhadap Anak - FKDI Indonesia

Thursday, August 30, 2018

Pandangan Al Quran Terhadap Anak


Pandangan Al Quran Terhadap Anak

Pemateri: Ustadzah Heni
Edisi: 30 Agustus 2018

1. Anak sebagai kesenangan

Anak sebagai perhiasan atau kesenangan, memang sebagai orang tua kita selalu diberikan rasa bahagia atas apapun prilaku anak. Terkhusus saat anak usia masih bayi ..bisa dikatakan pipisnya aja kita tunggu tunggu.

Tidak hanya bagi seorang muslim, bagi semua orang di luar Islam sudah mengakui bahwa anak adalah sosok yang menyenangkan.
Untuk merawat hanya pada level ini, tidak memerlukan keimanan yang tinggi, karena semua orang bahkan binatangpun menikmatinya.

Sebaiknya kita tidak terjebak hanya melihat anak sebagai sosok yang menyenangkan yang perlu diperlihatkan keindahannya, sehingga membuat kita orang tua menjadi lebih banyak jatuh kasian dan menjadi dimanja dengan semua fasilitas.

2. Anak Sebagai Wali

Anak sebagai wali atau anak sebagai wakil, ya ..anak bisa menjadi wakil kita. bahkan saat anak berusia 3 tahun, dia sudah bisa didik untuk bisa mewakili kita.

Misalnya yang biasanya kita sendiri yang menutup pintu, maka saat anak sudah usia 3 tahun dia bisa diminta tolong utk menutup pintu.
Mereka bisa mewakili kita di tempat2 undangan misalnya karena sudah bisa diandalkan.

Jadi mereka adalah pewaris atau penerus dari apa yang telah kita miliki.

Pada kesempatan ini, anak perlu dikembangkan : Jasmani, akal dan rohaninya

Pendidikan sangat ditekankan pada golongan ini

3. Anak Sebagai Cobaan

Cobaan dalam hal ini adalah cobaan dari segi kebaikan dan keburukan.

Pada level ini, sebagai orang tua harus mampu untuk menyikapi kondisi yang ditemui selama proses pendidikan berlangsung.
Tidak jarang anak menjadi musuh dari orang tuanya, atau ada anak yang sulit dinasehati. Bahkan banyak anak yang tumbuh tidak sempurna.

Saat kita menemui hal seperti dia atas, kita hrs mampu menyikapi dengan : Lapang dada, memaafkan dan mendoakan.

Kita harus memintakan keridhoan dari Allah swt atas anak tersebut.
Begitu pula saat anak kita menjadi orang yang sangat membanggakan, itupun merupakan cobaan bagi kita.
Jauhkan sifat sombong dan angkuh atas karunia yang dimiliki.

Kita harus selalu mampu mengontrol diri apakah kita memiliki rasa sombong atas anak kita, atau bahkan sering lupa, selalu disombong sombongkan.

4. Anak Sebagai Syafaat

Ini adalah level paling tinggi yang merupakan tujuan dari kita memiliki anak. Level-level sebelumnya dilewati dengan benar, dalam upaya agar anak bisa menjadi syafaat, penolong kita di dunia dan akherat.

Jadi anak dapat memberi syafaat tidak hanya kepada orang tuanya, tetapi kepada kakek dan neneknya.

Saat anak yang shaleh mendo'akan kita, sementara kita telah meninggal dunia yang tidak ada kesempatan sedikitpun untuk menolong diri sendiri, kecuali salah satunya adalah anak shaleh yang mendoakan kita.

Jadi apabila saat kita mendidik anak, sangat bersusah payah untuk membuat anak mampu shalat dengan penuh kesadaran, mengaji , maksudnya saat menyuruh kadang terjadi suatu pertengkaran kecil, itu lebih baik dan lebih memberikan rahmat dibandingkan kita membiarkan mereka karena kasihan, sedang tidur pulas karena capek misalnya.

No comments:

Post a Comment