PNEUMONIA - FKDI Indonesia

Thursday, May 25, 2017

PNEUMONIA

Ilustrasi dari Google

PNEUMONIA

Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan.

Orang tua sebaiknya waspada bila anak mengalami batuk dan gangguan pernapasan karena bisa saja menjadi tanda awal pneumonia.

Penyebab pneumonia cukup beragam, mulai dari bakteri,  jamur, serta sejumlah virus. Bahkan virus flu juga dapat memicu pneumonia pada anak.

Biasanya pneumonia terjadi setelah saluran pernapasan bagian atas yang mencakup hidung dan tenggorokan terinfeksi, berupa pilek dan nyeri tenggorokan. Setelah dua hingga tiga hari, infeksi dapat menjalar ke paru-paru. Sistem imun yang lemah atau belum terbentuk sempurna tidak mampu membasmi infeksi awal yang ringan sehingga menyebar ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia. Dengan pneumonia, jalan udara ke paru-paru bisa terhambat, sehingga bernapas menjadi sulit dan asupan oksigen berkurang.

Penyakit ini cenderung menyerang anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya bayi yang tidak mendapat air susu ibu (ASI) atau anak yang kurang gizi, anak-anak dengan HIV, bahkan anak yang terinfeksi campak juga berisiko terkena pneumonia. Sejumlah faktor lingkungan juga dapat meningkatkan risiko anak terkena pneumonia, misalnya orang tua yang merokok atau tinggal di pemukiman padat penduduk.

Selayaknya anak-anak, semangat mereka untuk bermain dan beraktivitas biasanya tinggi, sehingga kurang waspada pada dirinya sendiri. Bahkan ketika sakit, anak ingin tetap terjaga dan bermain. Namun, orang tua sebaiknya jangan menunggu sampai anak terkulai lemas untuk memastikan bahwa anak memang sakit. Ketika ritme napas anak menjadi cepat, orang tua sudah harus sigap memeriksakan ke dokter. Ini bisa menjadi gejala pneumonia.

Pneumonia pada anak bisa juga disertai dengan beberapa gejala seperti berikut ini.

  • Batuk.
  • Hidung tersumbat.
  • Muntah.
  • Demam.
  • Napas diiringi suara mendenging.
  • Kesulitan untuk bernapas hingga terlihat dada dan perut yang menggembung.
  • Terasa nyeri di bagian dada.
  • Menggigil.
  • Terasa sakit pada bagian perut akibat batuk terus menerus.
  • Tidak nafsu makan, sehingga bisa memicu dehidrasi.
  • Pada kasus yang parah, bibir dan kuku jari bisa berubah warna menjadi kebiruan atau abu-abu.
  • Menangis lebih sering dari biasanya.
  • Sulit beristirahat.
  • Pucat dan lesu.


Cara Mencegah

Berikut adalah beberapa langkah  untuk mencegah pneumonia pada anak.
Gizi yang cukup, mencakup pemberian ASI pada bayi minimal selama enam bulan pertama. Ini penting untuk menguatkan daya tahan tubuh anak secara alami dalam melawan penyakit. Cukupi kebutuhan nutrisi anak dengan memberikannya buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya.
Imunisasi, seperti imunisasi Hib (haemophilus influenzae tipe b), vaksin campak, serta vaksin pertusis atau batuk rejan yang dikenal dengan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus). Imunisasi tersebut  merupakan cara paling efektif untuk mencegah pneumonia.


Perilaku hidup sehat dan bersih, meliputi kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan, kebersihan lingkungan seperti menjauhkan anak dari asap rokok atau polusi udara, kebersihan rumah dan ventilasi udara yang baik, serta mengolah makanan secara bersih.
Jangan biarkan penyakit merenggut keceriaan anak, jagalah kebersihan serta penuhi kebutuhan nutrisi anak, dan jangan lupa untuk memberikan imunisasi untuk anak.


FORUM KAJIAN DAN DAKWAH ISLAM

Narasumber : dokter   Lia Subhan
Edisi   : Rabu, 24 Mei 2017

No comments:

Post a Comment