Perjuangan Para Salaf dan Ulama di Bulan Ramadhan - FKDI Indonesia

Tuesday, May 23, 2017

Perjuangan Para Salaf dan Ulama di Bulan Ramadhan

Ilustrasi dari Google

Perjuangan Para Salaf dan Ulama di Bulan Ramadhan

Benarlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tentang keunggulan generasi salaf: “Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (Riwayat Bukhari).
Mujahadah salaf selama bulan Ramadhan membuktikan kebenaran sabda Rasulullah di atas. Khususnya dalam melakukan amalan shalat dan membaca Al Qur`an, mujahadah mereka amat susah untuk ditandingi oleh umat Islam generasi terakhir. Bahkan bisa jadi mereka menilai bahwa amalan itu mustahil dilakukan! 

Dalam beberapa literatur Islam, seperti Hilyah Al Auliya karya Al Hafidz Abu Nu’aim dan Thabaqat Al Qura`n, karya Imam Ad Dzahabi, mujahadah para salaf, khususnya para tabi’in, terekam dengan baik. Bahkan dalam Al Hilyah, periwayatan itu disertai dengan sanad lengkap.
Nah, bagaimana sebanarnya mujahadah mereka selama bulan Ramadhan? Serta seperti apa persiapan mereka dalam menyambut bulan itu?Tulisan kali ini akan mengupas bagamana para salaf dan ulama bermujahadah di bulan mulia itu.

Salaf Khatamkan Al Qur`an dalam Dua Rakaat!

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalammembacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.
Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan dengan didasari keimanan dan keikhlasan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Al Bukhari).
Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, qiyam Ramadhan, serta pengkajian keilmuan, sehingga mereka siap bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan itu.
Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Al Qur`an, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabi’in ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (Al Ibarwa Al Idhadh, 1/86).
Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).
Sedangkan Said bin Jubair, dalam Mir’ah Al Jinan, Al Yafi’i menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabi’in ini membaca Al Qur`an di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa’ bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan: “Pegangkan Mushaf ini”, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kacuali setelah menghatamkan Al Qur`an.

Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan: “Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan.”
Beliau juga menasehati: “Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.” Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Al Qur`an.

Thabaqat Fuqaha Madzhab An Nu’man Al Mukhtar, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam Iqamah Al Hujjah (71,72) disebutkan periwayatan bahwa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit.
Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini.Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`ansekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabi’in yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat masyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabi’in ahli tafsir ini juga menghatamkan Al Qur`an pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isya.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengansahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa beliau adalah ulama yang ahli ibadah. Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan: Tidak ada seorangpunyang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah.

Karena itu beliau dijuluki Al Watad (tiang) karena banyak shalat (Tahdzib Al Asma, 2/220). Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan?
Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya selama 40 tahun ini menghatamkan Al Qur`an 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali (Manaqib Imam AbuHanifah, 1/241-242).

Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 imam yang bisa menghatamkan Al Qur`an dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri.

Ramadhan Para Ulama

Diungkap dengan gamblang di tulisan sebelumnya, gambaran mujahadahRamadhan para salaf, khususnya para tabi’in. Lalu bagaimana dengan generasi sesudahnya? Ternyata masih ada juga dari kalangan ulama yang meneruskan “tradisi baik” ini.
Sebagai contah, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).
Adapun untuk mempersiapkan Ramadhan, kita bisa belajar dari Taqi Ad Din As Subki (756 H). Beliau memiliki kebiasaan dikala datang bulan Rajab, yakni tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk melakukan shalat wajib, dan hal itu terus berjalan hingga Ramadhan tiba. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/168).

Ini ditempuh supaya beliau lebih bisa konstrasi beribadah, sehingga ketika Ramadhan telah tiba, fisik dan batin sudah memiliki kesiapan untuk melakukan dan meningkatkan mujahadah dalam beribadah.
Selai itu, adapula Khatib As Syarbini (977 H), ulama Mesir penulis Mughni Al Muhtaj, juga memiliki cara tersendiri agar bisa konsentrasi melakukan ibadah ketika Ramadhan tiba. Yakni, tatkala terlihat hilal Ramadhan, beliau bergegas dengan perbekalan yang cukup untuk ber’itikaf di masjidAl Azhar, dan tidak pulang, kecuali setelah selesai menunaikan shalat ied. (lihat, biografi singkat As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj, 1/5)

Bukan hal yang mustahil

Dan informasi amalan salaf itu sulit untuk ditolak, karena periwatan tentang kabar mujahadah para salaf juga menyertakan sanad yang semua perawinya tsiqah, bahkan hingga kini sebagian tradisi itu masih tetap hidup di beberapa wilayah.
Di India pada abad 13 H atau kebiasaan shalat tarawih dengan menghatamkan 30 juz dalam semalam masih dilestarikan. Hal itu diketahui dari fatwa Imam Laknawi, ulama madzhab Hanafi dari India yang wafat 1304 H, mengenai bolehnya menghatamkan Al Qur`an 30 juz dalam semalam di waktu tarawih, guna merespon pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan umat Islam menghatamkan Al Qur`an dalam tarawih di zaman itu. (Iqamat Al Hujjah, 154)

Bahkan hingga kini di Mesir, khususnya di wilayah Hay (distrik) As Syafi’i Kairo, para huffadz Al Qur`an berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid Ibad Ar Rahman, yang dimulai setelah Isya’ dan baru selesai ketika tiba waktu sahur, karena sang imam menghatamkan Al Qur`an hingga 30 juz, dengan bacaan yang agak cepat, tanpa mengabaikan tajwid dan makharij al huruf (tempat-tempat keluarnya huruf). Tentu, amat berat untuk bisa mengikuti shalat tarawih hingga selesai di masjid ini, kecuali bagi mereka yang punya azam tinggi dan telah hafal Al Qur`an 30 juz.

Bertentangan dengan Perbuatan Rasulullah?

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah perbuatan para ulama dan salaf, seperti menghatamkan Al Qur`an dalam sehari lebih dari sekali, meninggalkan tidur untuk qiyam lail, serta mujahadah lain tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan AisyahRadhiyallahu ‘anha? Yang berbunyi: “Aku tidak mengetahui Nabi Allah membaca Al Qur’an hingga pagi.” (Riwayat Ibnu Majah).
Begitu pula hadits dari Abdullah bin Amru, dimana Rasulullah bersabda: “Tidakkah aku dikabari bahwa engkau menghabiskan malam untuk shalat dan berpuasa di siang hari?” Aku menjawab, “benar.” Beliau mengatakan,”Sesungguhnya jika engkau melakukan hal itu matamu akan rusak dan hatimu akan lemah. Karena badanmu dan keluargamu memiliki hak, berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah” .(Riwayat Al Bukhari).

Imam Laknawi menjelaskan bahwa nabi tidak melakukan amalan-amalan yang berat, karena takut memberatkan umatnya. Sebagaimana diterangkan oleh AisyahRadhiyallahu ‘anha: ”Jika Rasulullah meninggalkan sebuah amalan yang beliau sukai, itu dikarenakan beliau takut jika manusia mengamalkannya, dan hal itu menjadi fardhu bagi mereka.” (Riwayat Al Bukhari).
Adapun mengenai hadist Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW mengetahui keadaan Abdullah, jika ia melakukannya maka justru akan membuatnya bosan dalam beribadah dan lalai terhadap kewajiban yang lain. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menasehatinya.

Kesimpulannya, amalan memperbanyak ibadah tetap dibolehkan, selama tidak melalaikan kewajiban lain. Karena dalam hadits riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw. melakukan shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Di kesempatan lain beliau juga memerintahkan kepada beberapa sahabat agar malakukan amalan sesuai dengan kemampuan. Tentu, kemampuan masing-masing pribadi berbeda-beda. Dan Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk mengikuti para sahabat beliau. Dan banyak sahabat beliau yang melakukan mujahadah dalam Ibadah, dan itu tidak diingkari oleh sahabat lain.



FORUM KAJIAN DAN DAKWAH ISLAM
Muwajjih   : Ustadz Herman Budianto, MSi
Edisi   : Senin,  22 Mei 2017

No comments:

Post a Comment