Allah berikan hadiah terbaikNya - FKDI Indonesia

Thursday, February 16, 2017

Allah berikan hadiah terbaikNya


_*Allah berikan hadiah terbaikNya untuk mengikis kesombongan jiwa kita*_

_Bismillah ashalatu wassalamu ala Rasulillah wa’ala alihi wa shahbihi ajma’iin. Amma ba’du._

Alhamdulillah maha suci Allah yang menciptakan persoalan² bagi kita, yang dengan persoalan itu seharusnya kita jadi tambah ilmu, tambah pengalaman, tambah wawasan, tambah iman dan sabar.

Memang ada kalanya hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Gelombang ujian dan cobaan seakan tak pernah habis. Dari yang hanya membuat kita tertegun sejenak hingga yang menjadikan kita terkapar tak berdaya karenanya. Pedih dan getirpun menjadi rasa yang tertuai.


Namun ketika persoalan itu muncul, terkadang yang terucap dari mulut kita adalah _“ Ya Allah kenapa harus aku yang di uji?”_ seolah–olah menyalahkan dan bersu’udzon kepada Allah. seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini untuk apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat : 56 _"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku"._  


Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas. Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena  Allah  sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?


Idealnya kita hidup di dunia ini ingin merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Tapi ternyata justru yang namanya hidup, pasti penuh dengan ujian, sebuah keniscayaan yang telah jadi sunatullahNya. Pada dasarnya kehidupan kita adalah kumpulan dari masalah demi masalah. Bahwa pergantian dan perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain adalah perpindahan dan pergantian masalah demi masalah. Karena hidup adalah tempatnya ujian atau masalah.

_“Dan kami pasti akan menguji  kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar"_ (Q.S Al baqarah : 155)

_“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka siapakah diantaranya yang terbaik perbuatannya”_ (Q.S al Kahfi  : 7)

_“Apakah mereka mengira bahwa mereka akan di biarkan hanya dengan mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak di uji? Dan sungguh, kami telah menguji orang – orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”_ (Q.S Al Ankabut 2- 3)


Karena hidup itu warna warni. ada  suka, ada  juga duka, ada tertawa ada menangis. Kita senantiasa berhadapan dengan  masalah.

Hanya  saja  kadarnya masalah itu berbeda-beda sesuai tingkatan kemampuan seseorang dalam memikulnya. Karena hidup tidak selamanya merasakan kebahagiaan saja pun tidak hanya merasakan kesedihan saja, setiap manusia pasti memiliki episodenya masing². *Yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada masalahnya, namun masalah yang utama adalah sikap kita terhadap suatu masalah*. Dengan masalah yang sama ada yang bersyukur, dan yang lain ada sebaliknya. Rasulullah bersabda :  _“Sesungguhnya urusan orang beriman itu selalu baik, apabila ditimpa kebaikan ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan apabila ia di timpa kesusahan ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”_


Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar. Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

_"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian  itu)  supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang *sombong lagi membanggakan* diri.."_ (al-Hadiid: 22-23)


πŸ“Œ Sebuah contoh sederhana, ketika seseorang kehilangan sepasang alas kakinya, sandal atau sepatu miliknya, pada detik itu ia merasa mendapat musibah, namun tidak lama menjelang ia melihat orang yang kehilangan kakinya, iapun bersyukur. Kenapa? Karena dirinya hanya kehilangan alas kakinya saja, sementara saudaranya kehilangan kaki yang tidak ternilai harganya.

Subhanallah.

Jadi sebenarnya jangan takut oleh persoalan hidup apapun, tapi takut salah menghadapi persoalan hidup. yang harus terus kita yakini bahwa getirnya hidup, tidaklah menandakan rahmat Allah telah sirna, perihnya cobaan, bukanlah isyarat bahwa kemurkaan Allah sedang menggelayuti kehidupan ini.

Sebaliknya, getir dan perihnya rasa yang kita alami dapat menjadi tanda bahwa Allah sedang menghapus dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Karena ada dosa yang tidak bisa di hapuskan kecuali oleh rasa getir dan perih. _Ada dosa  yang tidak  bisa terhapus hanya oleh air mata penyesalan._ *Ketika pedihnya sangat terasa, disanalah dosa akan terampuni. Saat getirnya membuncah di situlah kesucian akan tertuai*. Hasilnya hatipun menjadi tenang dan keberkahan hidup menjadi jaminan.

πŸ“Œ Jadi ketika persoalan hidup datang menghampiri kita, apa yang harus kita lakukan? Yang pertama adalah Hati siap menghadapi yang cocok dengan keinginan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan.  _"Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui"_ (Q.S Al Baqarah : 216) *karena jelek menurut kita belum tentu jelek juga menurut Allah*, ilmu Allah sangat luas sedangkan ilmu kita sangatlah terbatas, siapa tahu yang menurut kita itu jelek, ternyata itu adalah jalan kebaikan bagi kita. Seperti minum jamu, diawal ketika kita meminumnya, kita akan merasakan pahitnya jamu, tapi coba kita rasakan setelah minum jamu, badan menjadi terasa lebih sehat, begitu juga dengan ujian yang datang menimpa kita, pahit memang, getir juga iya, tapi ketika kita bisa menyikapi ujian yang kita hadapi itu dengan berhusnudzan pada Allah, maka tidak hanya hati kita yang menjadi tenang, tapi akhlak menjadi cemerlang dan Allah pun pasti akan sayang.

Kita boleh saja menangis, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. _*Bukankah selama ini kita meminta pada Allah untuk di tunjukkan jalan yang terbaik?*_ Dan mungkin iniah caranya Allah untuk menunjukkan kepada kita mana jalan yang terbaik bagi kita. Jika dengan datangnya _*ujian ini bisa menjadikan kita menjadi lebih mengenal, dekat dan lebih cinta kepada Allah*_ kenapa kita harus tidak rela? Ketika ujian ini bisa membuat kita memperbaiki diri kenapa kita harus kecewa? Yang penting tugas kita adalah luruskan niat, ibadah dan ikhtiar kita sempurnakan, selanjutya terserah Allah, karena tugas kita bukan menentukan segala-galanya.


πŸ“Œ Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. _"Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak"_ (QS. 4 : 19)

πŸ“Œ Langkah yang kedua adalah kalau sudah terjadi harus Ridho. Karena tidak ridho pun tetap terjadi. Orang itu menderita bukan karena kenyataannya, tapi karena tidak bisa menerima kenyataan. Dan orang yang enak itu adalah orang   yang bisa menghadapi kenyataan. Karena ridho itu sendiri adalah menerima kenyataan sambil memperbaiki keadaan. Terkadang kita sering mengeluh pada allah, “Ya Allah, kenapa ujianku seberat ini?” ingat _"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya itu"_  (Q.S Al Baqarah : 286) 

Allah maha tahu kadar kesanggupan kita dalam menghadapi ujiannya itu. Dan kita pasti mampu untuk menghadapinya. Ketika ingin naik jabatan, kita rela bekerja sebaik mungkin demi mendapatkan posisi yang kita inginkan,dan kita begitu senang ketika sudah mendapatkannya, apalagi ini, ujian yang kita hadapi ini tidak lain adalah agar kita menjadi hamba yang tinggi derajatnya di sisi Allah, apakah kita tidak merasa bangga, karena kita adalah hamba yang masih di perhatikan dan di sayangi olehNya.

πŸ“Œ Selanjutnya yang ke empat adalah evaluasi diri. Tafakuri diri, kenapa ini terjadi, Karena tidak ada suatu kejadian tanpa seizin Allah dan tidak ada sesuatu yang kebetulan melainkan atas kehendaknya. *Tanyakan dengan jujur pada diri sendiri apa salah saya?* Apa perbaikan yang harus saya lakukan. dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.

Kita harus siap ketika ujian dan cobaan akan terus menerus datang menghampiri. Ia tidak akan hilang hingga segala karat² dosa kita terkikis olehnya.

Seperti buah kelapa, untuk dapat diambil santannya ia harus di jatuhkan terlebih dahulu dari pohonnya yang tinggi, kemudian kulitnya harus di kelupas dengan paksa hingga tak tersisa lagi. Setelah bersih, ia lalu dibelah menjadi beberapa bagian. setelah itu, potogan² kelapa tersebut lalu di parut hingga hancur dan hanya menyisakan ampasnya. Apakah telah selesai? Tentu saja belum, karena ampas kelapa itu akan diperas hingga keluarlah santan, yang di sana manfaatnya baru terasa.

Begitu juga sifat dari ujian dan cobaan, ia akan terus melumat dan menghancurkan segalanya, hingga yang tersisa adalah bagian² dari diri kita yang secara kualitas, telah siap menjadi para pencintaNya.

πŸ“Œ Langkah yang ketiga, ketika kita di uji adalah jangan mempersulit diri,  _Yassiru walaa tuassiru_ Ya Allah mudahkanlah jangan di persulit. lantas apakah kita harus frustasi dan berputus asa?

_"Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman”_ (QS Al Imran : 139 )

_“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampui dosa-dosa semuanya. Sungguh Dia lah yang maha pengampun dan maha penyayang”_ (QS Az Zumar :53)

_“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang kafir"_ (QS Yusuf : 87)

Ayat-ayat di atas tentulah sudah cukup menjelaskan bagaimana kita harus menyikapi suatu ujian, Saat ini kita takut kehilangan, mulai saat ini kita tidak takut lagi, rezeki kita di tahan, tenang saja, sejak dari rahim 4 bulan, Allah sudah takdirkan rezeki kita. kalau kita sedang ada masalah, tenang saja, karena tidak tenangpun tetap muncul masalah. jadi tidaklah benar jika datangnya ujian menghampiri kita, membuat kita semakin terpuruk, atau bahkan lebih parah lagi nyaris bunuh diri karena tidak sanggup menghadapinya. Naudzubillah.

πŸ“Œ Lalu kapan ujian ini akan segera berakhir? ingat rumus puasa, kita menahan lapar dan haus karena yakin sebentar lagi akan tiba saatnya untuk berbuka. hujan pasti berakhir, badai pasti berlalu dan malam akan berganti siang. *Semakin beratnya ujian justru semakin dekat dengan jalan keluar.*

_“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”_ (QS. Al Insyirah : 5-6) Setiap satu kesulitan di apit oleh dua kemudahan. Dan rumus dalam menyikapinya adalah HHN (Hadapi Hayati dan Nikmati) tidak akan kemana-mana pasti akan ada Yakinlah bahwa akan ada ujungnya

πŸ“Œ setiap masalah sudah terukur oleh Allah yang maha mengetahui kesanggupan hambanya dalam menerima ujian dan masalah. Hanya kita sering berprasangka buruk pada Allah dan membatasi diri. Apabila kita berfikir berat, maka akan berat terasa masalahnya.

Demikian juga sebaliknya. *Berhati-hatilah dengan fikiran kita, karena ia akan menjadi perkataan kita, dan berhati-hatilah dengan perkataan karena ia akan menjadi perbuatan, berhati-hatilah dengan perbuatan karena akan menjadi kebiasaan, serta kebiasaan akan membentuk watak/akhlak*.

πŸ“Œ Lalu pada siapa aku harus berharap? Dan inilah langkah yang kelima Bersandar hanya pada Allah. _"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia dan hanya kepadaNya aku bertawakal.”_ (QS. At Taubah : 129).

Orang yang bersandar terhadap sesuatu takut sandarannya hilang, seorang istri yang bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya, Bagi kita sebagai orang beriman, cukuplah Allah saja yang menjadi penolong kita. Ia menjadi penentu segala²nya. Jadikan setiap masalah menjadi bahan evaluasi diri, jalan memperbaiki diri dan jalan mendekat kepada allah. Bagaimana caranya? 
_"wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar”_ (QS. Al Baqarah : 153)

Memohonlah kepada Allah untuk segera di beri jalan keluar dari setiap masalah, tingkatkan terus ibadah kita kepada Allah, perbaiki shalat kita serta jangan lelah untuk bersabar. Berusahalah untuk menjadi orang yang bertakwa, karena tidak akan rugi, ketika kita berusaha untuk menjadi orang yang bertakwa, maka allah akan memberi kita jalan keluar dari setiap masalah dan akan memberi kita rezeki dari arah yang tidak di sangka². kita hidup tidak sendiri. Selalu ada Allah dalam hati dan hidup kita dan Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya dalam keterpurukan yang berkepanjangan.

πŸ“Œ Karena itu, saat ujian dan cobaan datang, Segeralah bertaubat agar tak hanya pintu taubat yang terbuka, namun status menjadi pencintaNya pun akan menjadi milik kita, tetapi bila ujian dan cobaan itu belum tiba, jangan terlena olehnya.

Tetaplah mendekatkan diri padaNya dan selalu menempatkan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup kita. Semua orang punya masalah, maka sebaiknya permohonan kita kepada Allah bukanlah tidak punya masalah tetapi mintalah kepadaNya agar kita di beri kekuatan untuk menghadapi setiap masalah. Karena semua masalah dan ujian adalah bagian dari tarbiyah Allah atas kualitas hambanya. Pasti ada kebaikan di balik setiap masalah yang menimpa kita. jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya. Yakinlah dengan semua ujian yang Allah berikan. _“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”_ (QS. At Taubah : 111 )

πŸ“Œ Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga hidup singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti. Kita hidup didunia harus jelas tujuannya.cita-cita terbesar dalam hidup kita ialah berjumpa dengan Allah subhaanahu wa ta'ala. Mengingat mati, tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap detik diisi dengan penuh semangat memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba yang dicintai Allah subhaanahu wa ta'ala. kuncinya hanya satu: *kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya*.

Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.

_Semoga bermanfaat, khususnya ana...baarakallaahu fiikum_

By : Ustadz Abu Thalhah
Edisi : Rabu, 8 Februari 2017

No comments:

Post a Comment