ILMU HIKMAH ANTARA KAROMAH & KEDOK PERDUKUNAN - FKDI Indonesia

Tuesday, January 3, 2017

ILMU HIKMAH ANTARA KAROMAH & KEDOK PERDUKUNAN


*ILMU HIKMAH ANTARA KAROMAH & KEDOK PERDUKUNAN*

```"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka" (Thaha: 123)```

Maka barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta‘ala sehingga menyelisihinya, pasti dia akan rugi dan celaka. Karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mengancam bagi orang-orang yang menyelisihi petunjuk-Nya di dalam firman-Nya:

```"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta" (Thaha: 124)```

Oleh karena itu, seorang muslim akan mengikuti jalan Rasulullah
Shallallahu ‗alaihi wa sallam dan akan meninggalkan seluruh ajaran yang menyimpang dari ajarannya Shallallahu ‗alaihi wa sallam. Dia tidak akan terburuburu dalam meyakini dan mengamalkan suatu ajaran dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi dia akan menimbang terlebih dahulu seluruh ucapan dan amalan ibadahnya dengan amalan dan ucapan Rasulullah Shallallahu ‗alaihi wa sallam. Apabila sesuai maka diterima, namun apabila bertentangan maka dia akan menolak, dari manapun datangnya. Karena beliau Shallallahu‗alaihi wa
sallam bersabda: Artinya : ```"Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari
kami maka amalan tersebut ditolak."(HR. Al-Bukhari dan Muslim)```

Perbuatan syirik dan bid'ah yang lagi marak terutama di Indonesia adalah ada begitu banyaknya orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu hikmah dan sampai saat ini masih banyak orang yang memahami bahwa ilmu hikmah adalah merupakan ilmu kesaktian dan ilmu ghaib. Orang yang memiliki ilmu hikmah akan menjadi sakti mandraguna, kebal terhadap senjata tajam atau senjata api. Ia mampu mengobati berbagai macam penyakit dengan mudah dan instan. Ia sanggup berhubungan dan berkomunikasi dengan jin, memasuki alam ghaib dan menerawang masa depan. Ia bisa membuat orang lain yang berguru kepadanya menjadi sakti dan pilih tanding.

Di samping itu, ada juga yang menawarkan pelayanan jarak jauh dengan transfer ilmu hikmah bagi yang berminat. Mereka menyebutnya dengan pengisian ilmu keselamatan atau kekebalan dengan ilmu-ilmu hikmah.
Padahal jika kita memperhatikan makna al-Hikmah dalam ayat-ayat alQur'an, maka akan kita jumpai mayoritas makna al-Hikmah adalah al-Hadits atau as-Sunnah. Mayoritas kata al-Hikmah dalam ayat al-Qur'an disandingkan dengan kata al-Kitab yang maksudnya adalah al-Qur'an
"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni' mat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat
Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab
dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum
kamu ketahui". (QS. al-Baqarah: 151).

"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan
hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha
Mengetahui. (QS. al-Ahzab: 34).

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan
mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. Al-Jumu'ah: 2).

Dan tidak ada satupun ayat atau hadits shahih yang menjelaskan bahwa maksud dari ilmu al-Hikmah adalah ilmu kesaktian atau kadigdayaan, yang menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam, tidak terbakar oleh api, bisa menghilang, mampu menerawang atau meramal, bisa melihat jin dan syetan, serta tujuan kesaktian lainnya. Apalagi kalau dalam proses mendapatkan ilmu seperti itu dengan puasa atau shalat serta wirid bacaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Selain maraknya perdukunan berkedok ilmu hikmah yang mengiklankan dirinya di media massa, ada juga peranan media cetak berbentuk majalah berformat kecil yang mengusung nama dan label Islam, tapi menampilkan artikel-artikel berbau mistik dan bid'ah sebagai sajian utama, yang sangat terasa nuansa syirik dalam setiap sajiannya, atau setidak-tidaknya mengarah kepada kemusyrikan, Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita kita mengenal ajaran-ajaran Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang.

Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah!
Hakikat Wifik (isim atau azimat), Hizib, Jaljalut (asma') Ilmu hikmah menurut pemahaman para praktis ilmu perklenikan dibagi menjadi tiga bentuk…

Pertama,
bentuk tulisan yang lazim disebut wifig (wafag) atau isim, yang sering kali juga disebut azimat,
yang berarti keteguhan, karena diyakini dapat membantu mendapatkan keteguhan setelah berdoa. Isi
azimat macam-macam. Ada yang berupa ayat Al-Quran, asma Allah SWT, nama nabi, nama
malaikat, atau nama orang-orang shaleh – termsuk nama tujuh pemuda shaleh yang bersembunyi di Gua Kahfi.

Kedua, berupa bacaan. Ilmu hikmah berupa bacaan ini banyak ragamnya, seperti ratib,
yaitu rangkaian doa susunan para habib salaf yang masyhur sebagai waliyullah, terdiri dari ayat-ayat
Al-Quran dan zikir ma‟tsurat, yaitu zikir dari Rasulullah SAW yang diijazahkan secara umum
kepada umat. Ada pula yang berupa hizib, yaitu doa perlindungan yang berupa hizib yang disusun
oleh para auliya, seperti Hizib Nashr milik Ayekh Abul Hasan Asy-Syadzili, dan sebagainya yang
ijazahnya diberikan secara khusus.
Ada pula yang berupa asma‟, yaitu zikir tawasul dengan menyebutkan asma Allah, para nabi, malaikat, dan awilya. Ada yang berupa jaljalut, yaitu rangkaian doa yang berasal dari doa syair orang-orang shaleh, seperti jaljalut Sayidina Ali bin Abi Thalib, atau kutipan bait-bait Burdah, dan sebagainya. Ada pula ilmu hikmah yang berupa shalawat.

Ilmu hikmah yang berupa bacaan, ada yang tersusun dalam bahasa Arab, ada yang berbahasa Suryani, yaitu bahasa malaikat. Doa-doa atau bacaan dalam ilmu hikmah tersebut sering juga disebut ruqyah, yang secara bahasa berarti mantra atau jampi-jampi.

Ketiga berupa amalan, yang biasanya berupa puasa atau shalat sunah, menyertai pengamalan bacaan ilmu hikmah atau penulisan wifiq Penyesatan dan Peyimpangan Ilmu Hikmah (Wifiq, isim atau azimat) Banyak orang yang selama ini menggeluti ilmu hikmah dalam artian ilmu kesaktian, mempunyai keyakinan yang harus segera diluruskan. Karena mereka lebih yakih pada ilmu yang digelutinya daripada apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Mereka lebih suka mengamalkan 'ilmu hikmah' yang banyak tersebar di buku-buku Mujarrobat daripada do'a-do'a Rasulullah yang tertulis dalam kitab-kitab hadits.

JIMAT (WIFIQ, RAJAH, ISIM) ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN YANG MENGHARAMKAN Dewasa ini banyak orang yang salah kaprah, Mereka memahami bahwa di antara ulama ada perbedaan pendapat seputar penggunaan jimat. Ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Sehingga orang yang selama ini memakai jimat, berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Karena hal itu termasuk perkara khilafiyah (perbedaan pendapat). Selama masih ada ulama yang membolehkannya, maka mereka ikut bersama pendapat yang membolehkannya. Mereka yakin bahwa ulama yang membolehkan pemakaian jimat pasti punya dalil dan argumentasi yang kuat.
Para ulama Tidak ada seorangpun ulama yang
mu'tabar (diakui keilmuannya) di kalangan ulama. Ahlis Sunnah wal Jama'ah yang membolehkan seseorang memakai jimat ( yang berupa huruf dan angka
hijaiyyah yang dipotong-potong, juga benda-benda keramat) apalagi mengganggap jimat itu adalah ilmu hikmah.

Kiai Syafi‘I Hadzami. Ia mewanti-wanti agar berhati-hati dalam
mengamalkan ilmu hikmah, terutama yang berupa wafiq, isim, dan azimat. Sebab, wifiq paling sering mengakibatkan perpindahan keyakinan, dari Allah
SWT kepada wifiq, katanya.
Kontroversi berupa kemusyrikan dalam pemakaian wifiq atau azimat memang pernah ada di masa sahabat Rasululluh SAW. Dalam sebuah hadits
riwayat Abdullah bin Mas‘ud dikisahkan, Rasulullah SAW pernah mengisyaratkan
perihal azimat dan hukumnya. Rosulullah SAW bersabda, ―Sesungguhnya jampi jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.‖ (HR Al-Imam Ahmad)."
"Lantas, bagaimana jika azimat itu berasal dari Al-Quran atau asma Allah?
Tentang hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama salaf. Sebagian ulama
mengatakan boleh, sebagian lagi melarang. Yang membolehkan berpegang pada
pemaknaan hadits tentang keharaman jimat-yang mengandung kesyirikan. Mereka
adalah Abdullah bin ‗Amr bin Al-‗Ash dan Aisyah Ummul Mukminin.

Namun, 34 Masalah terbesar bagi penggunaan azimat memang pada pelatihan hati,
jangan sampai muncul keyakinan bahwa yang mengakibatkan terjadinya keajaiban
adalah azimat tersebut. Sebab, azimat hanyalah refleksi keajaiban Allah SWT.

Gara-gara sering terjadi kesalahan (dan kemusyrikan) pada pengunaan azimat itulah, belakangan sebagian ulama melarangnya.
Walhasil, pendalama akidah memang masih diperlukan, terutama mengingat kondisi mental kaum muslimin dewasa itu, agar islam tidak dipahami
sebatas pengakuan. Idealnya, akidah islam harus ditingkatkan dengan pemahaman,
keyakinan, pengalaman, dan pengamalan. Dan yang terpenting, umat harus tahu.

kepada siapa mereka mestinya belajar ilmu hikmah.
Ya, kepada para ulama ahli
hikmah yang alim dan shaleh. Bukan kepada dukun, paranormal, tukang ruqyah yang memamerkan kehebatan di televisi, apalagi pemburu hantu.

Dari semua penjelasan dan hadits Rasulullah yang telah dijelaskan diatas jika masih ada seseorang yang mengaku kyai, ulama, paranormal, dukun baik secara perorangan ataupun dari pesantren, lembaga perguruan atau padepokan-padepokan yang mengajarkan cara pembuatan jimat dan memberikannya pada orang lain untuk berbagai keperluan, maka mereka telah berbuat kesesatan yang nyata dan telah berbuat syirik pada Allah SWT .Sebagaimana Rasulullah telah bersabda : Sesungguhnya jika menggunakan jampi-jampi, jimat-jimat, maka sesungguhnya
ia telah menyekutukan (Allah).”(HR. Ahmad:4/156)

By : Ustadzah Nimas
Edisi : Senin, 2 Januari 2017

No comments:

Post a Comment