CINTA - FKDI Indonesia

Sunday, December 11, 2016

CINTA


*CINTA*


Kita Hidup tak pernah lepas dari yang namanya mencintai dan dicintai, terlahir karna cinta, hidup karna cinta dan melakukan apapun karna cinta, andai saja dunia ini tiada cinta, tidak terbayang bagaimana rupa dunia ini, adakah kehidupan akan berlangsung dengan baik atau tidak, adakah kenyamanan atau tidak.

Cinta merupakan karunia dari Allah Azza Wa Jalla kepada Makhluknya, cinta kepada duniawi dan juga cinta kepada Rabbnya. Adalah sebuah kenikmatan tiada tara jika cinta itu tumbuh subur didalam jiwa.


Ada dua bentuk cinta yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada manusia.

Pertama, cinta yang bersifat materi (duniawi), yaitu cinta terhadap apa saja yang diingini. Dalam bahasa al-Qur`an disebut hubbusy-syahawat, Sebagaimana Firman Allah Ta’ala, Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi dan diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Namun di sisi Allah lah tempat kembali yang paling baik. (Ali Imran [3]: 14)


Sekarang ada pertanyaan, apakah terlarang bagi umat Islam untuk mencintai Dunia? Kita liat lagi firman Allah yang lain : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kesenangan dan kebahagiaan negeri akhirat, namun janganlah kamu melupakan bagianmu dari kesenangan dan kebahagiaan (kenikmatan) hidup duniawi. (Al-Qashash [28]: 77)


Kita sudah bisa liat ternyata Allah itu tidak egois kepada HambaNYA, Makhluknya malah diingatkan untuk tidak melupakan kesenangan Dunia, hanya saja Allah Ta’ala hanya menuntut agar cinta kita kepada selain-Nya tidak lebih besar dari cinta kita kepada diri-Nya.

Letakkanlah cinta kepada yang lain di bawah cinta kepada Allah Ta’ala! . Allah telah memberi tahu kita bahwa dunia ini hanyalah sementara, tak abadi , dan hanya sebentar saja, kita harus berfikir akankah kita mencintai apa yang tiada abadi dan akan kita tinggalkan? Dan saya tak akan membahas dan merinci cara bagaimana mencintai dunia, karna tanpa dipelajaripun cinta kepada dunia ini akan didapat dengan sendirinya karna Setanpun ikut andil didalamnya. dan cinta yang bersifat ukhrawi yaitu cinta kepada keimanan (hubbul iman). memberikan cinta yang amat mendalam kepada Allah Ta’ala Itulah mahabbah jenis kedua yang bersifat ukhrawi, atau disebut mahabbatul iman.

Perasaan cinta yang amat mendalam ini tertaman dalam diri seseorang, maka itulah anugerah Allah Ta’ala yang sangat besar. Bersyukurlah mereka yang telah mendapatkannya. Sudah seharusnya seseorang yang telah berikrar dengan Syahadat menyatakan diri beriman kepada Allah dan RasulNYa, mampu mengalirkan cintanya dengan deras kepada Allah Azza Wa Jalla dan RasulNYA yang akan membawa kebahagiaan abadi dunia dan akhirat , bukan kepada dunia dan isinya yang fana ini.


Kita liat kondisi sekarang apa yang terjadi? Apakah posisi nya sekarang sudah terbalik atau sudah berjalan semestinya? Dengan sedih kita terpaksa menjawab bahwa posisinya sudah tidak pada semestinya, dihati kita cinta itu tercurah malah untuk duniawi, rela mati2an kita untuk mewujudkan rasa cinta tersebut, dan cuek disaat cinta kepada Allah mulai terkikis, bahkan merasa ada beban disaat Islam menuntut kita untuk beribadah semisal, sholat serasa ngabisin ngabisin waktu, sedekah serasa ngabisin duit, tilawah serasa tak ada waktu senggang ( luang ), apalagi untuk berdakwah dengan seabrek alasan kita berusaha untuk menghindar.

Sudah saatnya kita merobah pola pikir, karna bukan tidak mungkin hari ini adalah hari terakhir kita, maut menjemput kapan saja dan dimana saja, muda tidak jaminan , tua juga bukan berarti akan duluan, sakit juga bukan patokan, karna bisa jadi sisehat pergi duluan. Kebahagiaan yang harus kita cari sekarang adalah kebahagiaan Akhirat, kebahagiaan yang abadi, dan dengan apa kita mampu meraih itu? Satu satunya jalan adalah dengan mangalirkan cinta yang deras hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, satu-satunya Dzat yang pantas masuk kehati dan wajib kita ibadahi. Sudah saatnya kita menjadi Hamba yang tunduk dan patuh pada PerintahNYA. Dan sudah saatnya kita menjadi makhluk yang Nyaman dikala berdua an dengan sang khaliknya, merasakan rindu dikala kita belum menemuiNYA.


Sebuah kerinduan dalam mahabbah, yang tak kuat jika berpisah, takut jika ditinggalkan. Bagaimana caranya agar kita mampu mencintaiNYA? Orang bilang tak kenal maka tak sayang, kewajiban kita adalah mengenal siapa Rabb kita tersebut, melalui apa? Tentunya melalui Alam ini, melalui Ayat-ayatNYA, baik ayat berupa FirmanNYA maupun ayat berupa ciptaan2NYA. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Rasa cinta ditinjau dari faktor yang membangkitkannya terbagi menjadi dua: 1. cinta yang timbul dari faktor kebaikan, menyaksikan banyaknya nikmat dan anugerah (yang dilimpahkan), karena sesungguhnya hati manusia secara tabiat mencintai pihak yang (selalu) berbuat kebaikan padanya dan membenci pihak yang (selalu) berlaku buruk padanya.


Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak ada satupun yang kebaikannya lebih besar dibandingkan Allah Ta’ala, karena sungguh kebaikan-Nya kepada hamba-Nya (tercurah) di setiap waktu dan (tarikan) nafas (hamba tersebut). Hamba itu selalu mendapatkan limpahan kebaikan-Nya dalam semua keadaannya, sehingga tidak ada cara (tidak mungkin) baginya untuk menghitung (secara persis) jenis-jenis kebaikan Allah Ta’ala tersebut, apalagi macam-macam dan satuan-satuannya Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa bencana, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan” (QS an-Nahl: 53).


Kebaikan, nikmat dan kasih sayang yang Allah Ta’ala limpahkan kepada manusia, terlebih lagi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sungguh tiada terhitung dan tiada terkira, melebihi semua kebaikan yang diberikan oleh siapapun di kalangan makhluk. Karena kebaikan dan nikmatnya untuk lahir dan batin manusia. Bahkan nikmat dan taufik-Nya bagi manusia untuk mengenal dan mengikuti jalan Islam dan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah anugerah terbesar dan paling sempurna bagi manusia, karena inilah sebab kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat dan tidak ada yang mampu memberikan semua ini kecuali hanya Dia Ta’ala semata-mata.

2. cinta yang timbul dari faktor kesempurnaan dan keindahan. Jika terkumpul faktor kebaikan dan (banyaknya) limpahan nikmat dengan faktor kesempurnaan dan keindahan, maka tidak akan berpaling dari mencintai zat yang demikian keadaannya (terkumpul padanya dua faktor tersebut) kecuali hati yang paling buruk, rendah dan hina serta paling jauh dari semua kebaikan, karena sesungguhnya Allah menjadikan fitrah pada hati manusia untuk mencintai pihak yang berbuat kebaikan (padanya) dan sempurna dalam sifat-sifat dan tingkah lakunya”. manusia yang berakal sehat tentu mencintai keindahan dan kesempurnaan.

Semakin indah dan sempurna sesuatu dalam penilaian manusia maka sesuatu itu tentu semaikn dicintainya keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk saja bisa menjadikan manusia yang mengenalnya mencintainya, padahal bagaimanapun tingginya keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk, tetap saja semua itu terbatas, maka bagaimana pula dengan keindahan yang maha sempurna dan kesempurnaan yang tidak terbatas yang ada pada Allah Ta’ala?

Dialah yang maha indah dan sempurna pada Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka tentu seorang hamba yang mengenal kemahaindahan dan kemahasempurnaan ini akan mencintai-Nya bahkan menjadikan-Nya paling dicintai-Nya lebih dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Sahabat sahabatku semoga dengan dua faktor diatas mampu menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah. adakah keuntungan kalo kita mencintai Allah? tentu saja ada diantaranya adalah Cinta kepada Allah Ta’ala merupakan sebab masuk syurga Allah Ta’ala akan mencintai orang – orang yang mencintaiNya Orang yang mencintai Allah Ta’ala hatinya akan menjadi hidup Cinta kepada Allah Ta’ala lebih dari segala sesuatu merupakan ciri utama orang-orang yang sempurna imannya Merasakan kelezatan dan manisnya iman


Dan sepertinya sudah menjadi kelaziman, manusia itu juga ingin dicintai, baik oleh manusia apalagi oleh Allah, kadang kita malah egois kepada Allah, yang menuntut Allah mencintai namun kita tak mempedulikan apa apa yang Allah suka dari hambaNYA.

Sebenarnya kalo kita mau berfikir Sebenarnya Allah itu sudah mencintai HambaNYA, bagaimana tidak? apapun kebutuhan kita slalu dipenuhi.

Namun selain cinta didunia tentunya kita juga ingin dicintai Allah diakhirat.


Nah sahabat-sahabatku, Jika seorang sedang jatuh cinta, tentu ia akan berusaha menjadi seperti apa yang diinginkan dambaannya itu. Maka tak jarang kita melihat seorang yang tadinya brutal menjadi baik, yang tadinya nakal menjadi saleh, yang tadinya hura-hura menjadi bersahaja. apapun akan kita korbankan demi orang yang kita cintai. bagaimana seharusnya kita kepada Allah? agar Allah juga mau melirik ke kita dan mencintai kita juga. Kecintaan pada Allah dapat dibuktikan dari ketaatan menjalankan perintah & menjauhi larangan tanpa paksaan, dan dibuktikan pula dari pengorbanannya pada Islam, baik berupa tenaga, fikiran, waktu, harta, jiwa, raga dan bahkan nyawa.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin menyebutkan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengundang cintanya Allah.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya.

Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut.

Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, ]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah.

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, inilah yang begitu istimewa yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala. jalan untuk mencintai Allah sangatlah banyak, tidak terbatas pada hal-hal di atas. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita menempuh jalan-jalan itu dengan hati yang ikhlas karena ingin mencapai cinta Allah. Allah tidak akan sia-sia kepada hamba yag ingin mendekat ke hadiratNya.

Kesebelas : Membantu saudara yang lagi kesusahan, mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.
Sudah kah itu kita lakukan?.
jika kita sudah melakukan hal2 yang dicintai Allah dan mendekatkan diri kepadaNYA, tentunya Allah tak akan tinggal diam kepada HambaNYA, bertepuk tak akan sebelah tangan, Allah akan menyambut cinta itu .

Selanjutnya kita coba menilik bagaimana jika Allah sudah mencintai hambaNYA?
apa yang terjadi pada kehidupan sang Hamba?

1 - Faham agama: Rasulullah S.a.w bersabda, maksudnya : “Apabila Allah mencintai seseorang maka Dia membuatnya faham mengenai agamanya.” [Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim]

2 - Sabar dan ridha dengan ujian-ujian dari Allah "Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Surah Al-Baqarah : 155-157]

3 - Cinta mencintai kerana Allah: “Allah s.w.t berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta-mencintai kerana Aku, saling kunjung mengunjungi kerana Aku dan saling memberi kerana Aku.” [Hadits Qudsi] Semoga kita tidak menjadi orang yang cintakan manusia lain kerana nafsu syahwat, harta-benda dan keduniaan semata-mata. Cinta yang paling utama ialah cinta kepada Allah S.w.t, kemudian kepada Rasulullah S.a.w, ibu bapa dan barulah manusia-manusia lain.

4 - Berakhir hidup dengan husnul khatimah: Rasulullah S.a.w bersabda: "Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya." Sahabat bertanya: "Apa itu memaniskannya ya Rasulullah?" Baginda berkata: "Dia akan memberinya petunjuk untuk melakukan kebaikan ketika menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meredhainya (atau ia berkata) orang sekelilingnya." [Hadits Riwayat Al-Hakim]

5 - Sentiasa berzikir pada Allah: Diriwayatkan bahawa Nabi Musa 'Alaihi salam pernah berkata, " Wahai Rabb Ku Yang Maha Mulia, Bagaimana aku dapat membezakan antara orang yang ENGKAU CINTAI dengan orang yang ENGKAU BENCI?" Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: "Wahai Musa, Sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya" Nabi Musa bertanya, "Wahai Rabb, apa kedua tanda itu?" Allah S.w.t berfirman: "Aku akan mengilhamkannya agar dia berdzikir kepada Ku, agar aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka Ku, agar dia tidak terjerumus dalam azab dan siksaKu."

Akhirnya, saya mengajak pada diri pribadi dan kaum muslimin supaya kita sering berdo’a agar mendapatkan cinta Allah yang tidak ternilai dan rasa cinta dari orang-orang yang mencintai Allah serta perbuatan yang mengantarkan kita kepada cintaNya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda

, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِى إِلَى حُبِّكَ (رواه الترميذي، حديث حسن صحيح، وصححه الألباني )

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon cintaMu dan cintanya orang yang mencintaiMu serta kecintaan pada suatu amalan yang dapat mendekatkanku untuk senantiasa mencintaiMu” ( HR. Tirmidzi, Hadits hasan shohih dan dinyatakan shohih oleh syaikh Al Bani).

Demikian saja dari saya...

Wallahu a’lam .

By : Ustadzah Irna
Edisi : Jum'at 9 Desember 2016

No comments:

Post a Comment