AGAR CINTA BERSEMI DALAM RUMAH TANGGA (Part 2) - FKDI Indonesia

Sunday, December 11, 2016

AGAR CINTA BERSEMI DALAM RUMAH TANGGA (Part 2)


*AGAR CINTA BERSEMI DALAM RUMAH TANGGA*
(Part 2)

C. Rumus Menumbuhkan Cinta: Saling Menumbuhkan




Saling menumbuhkan. Jika kamu mencintai, maka kamu akan berusaha untuk membuat kehidupannya lebih baik. “Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari” tutur ustadz Anis Matta. Lanjutnya, “Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.” Karena dalam cinta, kamu akan memberikan sentuhan pendidikan dan penguatan nilai kebaikan.

Tentu seorang istri berharap pasangan hidup yang bukan sekadar menegur kesalahan tapi juga mau menunjukkan jalan kebenaran. Ia berdoa agar pasangannya tak sekadar memimpikan Surga tapi juga mau bersama-sama berjuang menggapai ridha-Nya. Begitupun juga dengan suami, ia menginginkan agar hadirnya istri dapat menjadi penyokong perbaikan diri. Ia mengharapkan sosok istri dapat menjadi teman seperjuangan menggapai ridha Ilahi.

Jika kita lihat keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita mendapati beliau mengajak dan menyemangati istrinya untuk qiyamul lail, bersama-sama berpuasa, memperdengarkan bacaan Al Qur’an dan melakukan ibadah serta perbuatan baik lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimbau umatnya untuk mengerjakan shalat malam dan menganjurkan agar suami istri hendaknya saling membantu dalam mengerjakannya. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan memercikkan air ke wajah suaminya demikian pula sebaliknya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasûlullâh bahwa beliau bersabda:

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). “Semoga Allah Subhanaahu wa Ta’ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun) (HR Ahmad).


Saat istri Rasulullah haid, beliau tetap menemaninya dengan menghadirkan suasana ibadah kepada Allah SWT. Beliau meletakkan kepala di pangkuan istrinya, sambil membaca Al Qur’an agar istrinya bisa turut mendengarnya.

Betapa indah jika suami istri bisa saling membaca Al Qur’an sementara pasangannya menyimak dan sesekali membetulkan kekeliruan bacaan. Betapa menawan jika suami membacakan beberapa hadits atau tafsir atau ilmu lainnya, sementara istri menyimaknya dengan seksama. Semoga pernikahanmu bisa menjadi wadah untuk saling membantu dan menyemangati dalam ibadah, menimba ilmu dan melejitkan potensi diri. Sehingga engkau menjadi seorang mukmin yang bahagia lagi penuh prestasi


D. Aktif Menumbuhkan Suasana Romantis (baik suami atau istri)


Belajarlah dari Rasulullah , beliau sering mencium istrinya saat hendak berpergian. Disaat sebagian suami sering pergi terburu-buru, seolah urusannya diluar rumah begitu penting sampai istrinya tak diberitahu. Kadang tanpa pamit bahkan juga tanpa salam. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberi contoh untuk menunjukkan rasa cinta saat rumah hendak ditinggalkan. Bahkan jika hanya untuk urusan yang sebentar, seperti untuk keluar shalat ke masjid pun, beliau sempatkan mengecup mesra istrinya.
'Aisyah Radhiallaahu 'anha bercerita, “Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu.” (HR Ahmad).



Belajarlah dari Rasulullah, dalam urusan makanan dan minum pun beliau selalu tunjukkan kasing sayang yang begitu besar untuk istrinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkan istrinya pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa, menjadi seorang istri yang terhormat di samping suaminya.
‘Aisyah radhiallâhu ‘anha menuturkan: “Suatu ketika aku minum, ketika itu aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasûlullâh dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR Muslim)



Belajarlah dari beliau yang dengan kesibukan diluar rumah yang begitu luar biasa, beliau bisa tetap membantu pekerjaan rumah tangga. Betapa bahagia istri-istri beliau, saat dalam kesulitan mengurus urusan rumah tangga, ada suami yang mau turut serta membantunya. Apa yang berat dikerjakan sendirian, bisa lebih mudah dan menyenangkan karena ada kekasih yang membantu meringankan beban.

Betapa keliru sebagian suami yang merasa selalu malas bahkan gengsi jika membantu menyelesaikan urusan rumah tangga. Ya, gengsi dan merasa diri terlalu tinggi untuk mencuci piring, merapikan rumah yang tidak bersih, dan menyuapi anak-anak. Seolah-olah istri adalah seorang pembantu yang bertugas melayani. Astaghfirullah. Padahal manusia yang paling mulia selalu ikut membantu pekerjaan istri jika berada di rumahnya.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apa yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wa salla, di rumahnya?” Aisyah menjawab: “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari)

Bahkan dalam mandi pun ada kemesraan.
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, Aisyah juga berkata, “Aku mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu tempayan (yang diletakan) antara kami berdua, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, “Sisakan air buatku, sisakan air buatku”. Dan mereka berdua dalam keadaan junub. (HR Muslim)

by : Ustadz Arif Rahman Lubis

No comments:

Post a Comment