DZIKIR ANTI-PELURU GHAIB - FKDI Indonesia

Thursday, October 6, 2016

DZIKIR ANTI-PELURU GHAIB


*DZIKIR ANTI-PELURU GHAIB*

Banyak sekali perumpamaan dari keutamaan Dzikir yang disebutkan Nabi sholallahu alaiyhi wassallam dan para ulama yang memahami betapa dahsyatnya manfaat darinya. Diantaranya saja, Nabi mengatakan bahwa Dzikir itu seperti benteng.
Bayangkan seorang prajurit yang dikejar musuh kemudian memasuki benteng yang kokoh, yaitu perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Suatu ketika Nabi juga bersabda bahwa syaitan itu senantiasa mengintai keadaan qalbu manusia, jika ia berdzikir maka syaitan menyelinap dan jika ia lepas dari dzikir maka ia masuk dan menguasainya [membisiki was-was, ragu-ragu,curigaan, su'uzon dsb].

Demikian juga para ulama, Ibn Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa dzikir pagi itu seperti sarapan bagi jiwa. Jika kita tidak mengambilnya maka jiwa kita akan lemah dan lapar disiang hari, ia lemah menahan diri dari kemaksiatan dan kemungkaran. Juga lemah dari syaitan. ๐Ÿ‘ป๐Ÿ‘ป๐Ÿ‘ป

Ibn Qayyim al Jauziyyah, mengibaratkan dzikir ini seperti baju besi. Semakin banyak dzikirnya, semakin tebal bajunya hingga suatu saat bahkan bisa memantulkan panah dan mengirimnya kepemanah. Dalam arti lain, mengirimkan balik sihir kepada pengirimnya. Atau mencelakai syaitan-syaitan yang berupaya merusak jiwanya.

Syaikh wahid abdussalam bali mengatakan bahwa dzikir adalah benteng ghaib, para ulama lain juga berkata bahwa dzikir pagi dan petang itu tameng sihir terbaik dipermukaan bumi ini. ๐Ÿ™‰๐Ÿ™‰๐Ÿ™‰

Kenapa dzikir ini diibaratkan benteng pertahanan yang kokoh, benteng ghoib, kekuatan jiwa, baju besi, tameng sihir terbaik ?
๐Ÿ‘‰๐ŸผKarena saat kita tidak bisa melakukan kemaksiatan sambil berdzikir.
Dorongan untuk bermaksiat dari syaitan dan nafsu kita melemah sampai ia mati ketika kita berdzikir. Jika qalbu dan jasad manusia tidak lagi bermaksiat, maka ia kuat dan gagah. Fokus. Bahagia. Tenang dan bersinar. Cahayanya terlihat diwajah, menyinari yang lainnya. Dan sebaliknya…

Jika qalbu tidak berdzikir maka cahaya itu menghilang, dan bersamaan dengannya muncullah kegelapan. Kesempitan. Kesedihan. Keluhan. Kekacauan. Prasangka jahat dan hal-hal buruk lainnya. Karena cahaya itu hilang maka kegelapan menyelimuti. Sementara gelap adalah tempat-tempat syaitan membentangkan project besarnya.

*Dzikir* adalah bagian dari metode atau upaya peyucian jiwa atau Tazkiyatunnafs. Tazkiyatunafs bisa dilakukan dengan tiga tahapan besar; pemurnian aqidah, penegakkan kembali amal-amal yang diwajibkan syariat islam dan memperbanyak amalan-amalan sunnah. Shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, umrah, muhassabah, taubah, menikah, jihad fii sabilillah, dan dzikir yang penuh berkah.

Dzikir yang dimaksud adalah dzikir dengan lisah, dzikir dalam qalbu, duduk dimajlis ilmu, dzikir pagi petang dan malam, dan juga membaca Al Qur’an. Membaca al Qur’an, mempelajari al Qur’an, murajaah, hafalan, juga termasuk didalamnya mendengarkan al Qur’an atau yang disebut dengan ruqyah. Jadi mendengarkan ayat-ayat ruqyah merupakan bagian daripada dzikir yang akan membersihkan qalbu dari kotorannya.

*Kesimpulannya*, mendengarkan al Qur’an ini bagian dari dzikir dan dzikir adalah bagian dari upaya tazkiyatunnafs.

Kenapa jiwa harus dibersihkan, agar ia kuat!
Agar ia gagah, tidak lemah. Istiqomah. Tidak mudah patah. Tidak mudah tumbang. Tidah mudah kecewa. Tidak mudah sakit hati. Tidak mudah menyerah. Dan senantiasa semangat dalam menjajaki genderang akhir jaman ini. Ia semangat dan bahagia karena menjadi orang-orang asing dimuka bumi ini. Ia bahagia, karena telah melibatkan diri dalam mempersiapkan dan menciptakan peradaban akhir jaman yang dimenangkan oleh Islam.

Wallahu’ ta’ala ‘alam bishawab

By : Ustadzah Nimas
Edisi : Rabu, 5 Oktober 2016

No comments:

Post a Comment