Kisah Islamnya Mush'ab bin Umayr - FKDI Indonesia

Wednesday, August 17, 2016

Kisah Islamnya Mush'ab bin Umayr

*Kisah Islamnya Mush'ab bin Umayr*

Ikhwan wa akhowaty fiLlah rahimany wa rahimakumuLlah...

Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyaLlahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain.

Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, RasuluLlah ﷺ berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah Al Arqam bin Abi Arqam radhiyaLlahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

Mush’ab bin Umayr yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam.

Ia mendatangi Nabi ﷺ di rumah Al Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis RasuluLlah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Sampai akhirnya kemudian RasuluLlah ﷺ mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

*Peranan Mush’ab Dalam Islam*

Ikhwan wa akhowaty fiLlah rahimany wa rahimakumuLlah...

Mush’ab bin Umayr adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi ﷺ mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah. Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah.

Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Sa'ad bin Muadz.

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umayr dan pemahamanannya yang bagus terhadap Al Quran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Sa'ad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Sa'ad bin Muadz.

Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”.

Sa'ad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak dan adil”.

Mush’ab pun menjelaskan kepada Sa'ad apa itu Islam, lalu membacakannya Al Quran. Sa'ad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umayr radhiyaLlahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”.

Kemudian Sa'ad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?”

“Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab.

Sa'ad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Sa'ad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.Lalu Sa'ad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim. Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi ﷺ dan para sahabatnya hijrah.

Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah An Nabawiyah).

*Dunia Dijualnya Demi Akhirat*

Ikhwan wa akhowaty fiLlah rahimany wa rahimakumuLlah...

Suatu hari Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umayr sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.

Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umayr, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu, lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”.

Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya.

Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus. Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama RasuluLlah ﷺ di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umayr dengan mengenakan kain burdah (sejenis kain yang biasa dijadikan selimut) yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika RasuluLlah ﷺ melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).

Zubair bin Awwam mengatakan, “Suatu ketika RasuluLlah ﷺ sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umayr dengan kain burdah yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk sedih dan menangis. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi ﷺ memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

Saad bin Abi Waqqash radhiayaLlahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umayr adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-tatih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleholeh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi.

Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya.

Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya.

_Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya._

*Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umayr*

Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin 'Auf radhiyaLlahu ‘anhu.yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umayr. Ia berkata, “Mush’ab bin Umayr telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273).

Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. RasuluLlah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no. 3897)

Selamat jalan wahai Mush'ab, semoga Allah meridhoimu...

Sungguh sejarah akan terus mencatat namamu yang mulia...

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب


Hari/tanggal : Rabu, 17 Agustus 2016
Narasumber : Ustadz Satria Ibnu Abiy

No comments:

Post a Comment